1.1. Dalil Istiadzah
فَإِذَا
قَرَأۡتَ ٱلۡقُرۡءَانَ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ ٩٨
98)
Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah
dari syaitan yang terkutuk (Q.S An-Nahl : 98)
1.2. Sighot Istiadzah
اَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
اَعُوْذُ بِاللَّهِ السَّمِيْعِ العَليْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ
الرَّجِيْمِ
1.3. Sembilan Cara Membaca
Basmalah
a.
Nunnya lafald Ar-rahman berharakat kasrah dan Mimnya
lafald Ar-rahiim berharakat kasrah
بِسۡمِ
ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
b.
Nunnya lafald Ar-rahman berharakat fathah dan Mimnya
lafald Ar-rahiim berharakat fathah
بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنَ
ٱلرَّحِيمَ
c.
Nunnya lafald Ar-rahman berharakat dhommah dan Mimnya
lafald Ar-rahiim berharakat dhommah
بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنُ
ٱلرَّحِيمُ
d.
Nunnya lafald Ar-rahman berharakat kasrah dan Mimnya
lafald Ar-rahiim berharakat fathah
بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ
ٱلرَّحِيمَ
e.
Nunnya lafald Ar-rahman berharakat kasrah dan Mimnya
lafald Ar-rahiim berharakat dhommah
بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ
ٱلرَّحِيمُ
f.
Nunnya lafald Ar-rahman berharakat fathah dan Mimnya
lafald Ar-rahiim berharakat dhommah
بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنَ
ٱلرَّحِيمُ
g.
Nunnya lafald Ar-rahman berharakat dhommah dan Mimnya
lafald Ar-rahiim berharakat fathah
بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنُ
ٱلرَّحِيمَ
Ketujuh macam
cara membaca basmalah tersebut yang boleh dipakai dalam shalat hanya بِسۡمِ
ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
Hukum yang
berikut ini tidak boleh karena susunan mubtada’ dan khabar
memisahkan antara sifat dan mausuf
h.
Nunnya lafald Ar-rahman berharakat fathah dan Mimnya
lafald Ar-rahiim berharakat kasrah
بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنَ
ٱلرَّحِيمِ
Hukum yang
berikut ini juga tidak boleh karena susunan fi’il dan fa’il
memisahkan antara sifat dan mausuf
i.
Nunnya lafald Ar-rahman berharakat dhommah dan Mimnya
lafald Ar-rahiim berharakat kasrah
بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنُ
ٱلرَّحِيمِ
1.4. Hukum Membaca Basmalah
a.
Basmalah wajib dibaca pada awal Surat Al-Fatihah
Sabda Nabi Muhammad saw. yang
diriwayatkan Imam Daroquthni :
وَبِسۡمِ
ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ أَيَةٌ مِنْهَا
b.
Basmalah Sunnah dibaca pada setiap awal surat dalam
Al-Qur’an kecuali Surat Al-Fatihah dan
Surat At-Taubah (Al-Baro’ah)
Sabda Nabi Muhammad saw. yang
diriwayatkan Imam Abu Dawud :
كُلُّ أَمْرٍ دِيْ بَالٍ لاَيُبْدَاُ فِيْهَا بِبِسْمِ اللَّهِ فَهُوَ
أَقْطَعُ
c.
Basmalah boleh (jaiz) dibaca
pada tengah Surat At-Taubah (Al-Baro’ah)
d.
Basmalah haram dibaca pada awal Surat At-Taubah
(Al-Baro’ah); karena surat ini mengisahkan tentang peperangan antara musyrikin
makkah dan kaum muslimin.
بَرَآءَةٞ
مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦٓ إِلَى ٱلَّذِينَ عَٰهَدتُّم مِّنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ١ فَسِيحُواْ
فِي ٱلۡأَرۡضِ أَرۡبَعَةَ أَشۡهُرٖ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّكُمۡ غَيۡرُ مُعۡجِزِي ٱللَّهِ
وَأَنَّ ٱللَّهَ مُخۡزِي ٱلۡكَٰفِرِينَ ٢
1)
(Inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Allah dan Rasul-Nya (yang
dihadapkan) kepada orang-orang musyrikin yang kamu (kaum muslimin) telah
mengadakan perjanjian (dengan mereka); 2) Maka berjalanlah kamu (kaum
musyrikin) di muka bumi selama empat bulan dan ketahuilah bahwa sesungguhnya
kamu tidak akan dapat melemahkan Allah, dan sesungguhnya Allah menghinakan
orang-orang kafir
1.5. Istiadzah,
Basmalah, dan Awal Surat
a.
Qoth’ul Jami’ :
Membaca istiadzah waqaf, membaca basmalah waqaf, kemudian membaca awal surat
اَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ ۞ بِسۡمِ
ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ۞
ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ۞
b.
Qoth’ul Awal waWashluts Tsani : Membaca istiadzah waqaf, membaca
basmalah tanpa waqaf langsung membaca
awal surat
اَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ ۞ بِسۡمِ
ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ٱلۡحَمۡدُ
لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ۞
c.
Washlul Awal waQoth’uts Tsani : Membaca istiadzah tanpa waqaf langsung membaca basmalah waqaf , kemudian
membaca awal surat
اَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ
ٱلرَّحِيمِ ۞
ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ۞
d.
Washlul Jami’ :
Membaca istiadzah tanpa waqaf langsung,
basmalah tanpa waqaf langsung membaca
awal surat
اَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ
ٱلرَّحِيمِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ
۞
1.6. Basmalah antara
Dua Surat
a. Qoth’ul Jami’ : Membaca akhir surat waqaf, membaca
basmalah waqaf, kemudian membaca awal surat
لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ ٦ بِسۡمِ ٱللَّهِ
ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ۞ إِذَا
جَآءَ نَصۡرُ ٱللَّهِ وَٱلۡفَتۡحُ ١
b.
Qoth’ul Awal waWashluts Tsani : Membaca akhir surat waqaf, membaca
basmalah tanpa waqaf langsung membaca
awal surat
لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ
دِينِ ٦ بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ إِذَا جَآءَ نَصۡرُ ٱللَّهِ
وَٱلۡفَتۡحُ ١
c.
Washlul Jami’ :
Membaca akhir surat tanpa waqaf
langsung, basmalah tanpa waqaf
langsung membaca awal surat
لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ
دِينِ بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
إِذَا جَآءَ نَصۡرُ ٱللَّهِ
وَٱلۡفَتۡحُ ١
Hukum yang
keempat ini tidak boleh karena dikhawatirkan orang yang mendengar bacaan
tersebut mengira bahwa basmalah adalah akhir surat.
d.
Washlul Awal waQoth’uts Tsani : Membaca akhir surat tanpa waqaf langsung membaca basmalah waqaf , kemudian
membaca awal surat
No comments:
Post a Comment